2015Feb 13 - Enjoy the videos and music you love, upload original content, and share it all with friends, family, and the world on YouTube.
Diaadalah teman yang selalu berkata tentang hal-hal yang benar. Inilah yang menunjukkan bahwa dia merupakan orang yang tepat untuk kamu ajak berbagi cerita. Ciri orang yang bisa dipercaya adalah menghargai sesuatu yang benar. Teman seperti itu bisa dipercaya untuk menjaga rahasia. Jadi, gak perlu ragu atau curiga padanya ya.
BeliKAMU cerita yang tidak perlu dipercaya by Sabda Armandio (restok) di Sidoarjo,Indonesia. segel, baru , ori , restok , sudah sold 1 sebelumnya Dapatkan penawaran menarik di Buku Chat untuk Beli
1 Semakin mahal deterjen, pakaian akan semakin bersih. Ini belum tentu benar dan sebagian besar deterjen yang tersedia di pasar swalayan saat ini mampu mencuci sebagian besar cucian Anda. Pergerakan air di dalam mesin cuci dan bagaimana air menyebarkan deterjen melalui pakaian merupakan faktor yang sama pentingnya. 2.
.
Judul Kamu Novel Penulis Sabda Armandio Penerbit Moka Media Cetakan Pertama, 2015 Tebal viii + 348 hlm 11 x 17 cm ISBN 978-795-961-9 ~ Ulasan diterbitkan di halaman Buku, koran Padang Ekspres, Minggu, 26 April 2015. Pada edisi koran, ada kesilapan dari penulis yang mencantumkan judul film Jim Carrey Sip Men!, seharusnya judul film tersebut adalah Yes Man! Mohon dimaafkan atas kesalahan tersebut. Judul Kamu Novel Penulis Sabda Armandio Penerbit Moka Media Cetakan Pertama, 2015 Tebal viii + 348 hlm 11 x 17 cmISBN 978-795-961-9 Sabda Armandio Alif barangkali adalah salah seorang prosais muda dengan kemunculan karya cemerlang. Sebuah novel bertajuk Kamu Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya yang ditulis Sabda memperlihatkan bagaimana ia menggarap jalinan cerita dari peristiwa-peristiwa biasa bahkan terkadang teramat konyol, nyeleneh, asing, tapi mampu membuat pembaca bertahan dalam rekaannya. Sabda seakan memberikan kesempatan hanya tiga hari untuk tokoh “aku” mengingat mundur ke masa lalu dan menarasikan tokoh-tokoh lain semisal “kamu”, “pacarku”, “mantan pacarku”, “perempuan teman sekelasku”, “permen”, dll. Sabda juga memberikan kesempatan tiga hari bagi pembaca untuk memasuki peristiwa asing yang terjadi pada tokoh “aku” dan persentuhannya dengan tokoh-tokoh lain. Tiga hari sebagai pembuktian bahwa tidak butuh waktu panjang untuk menghidupkan tokoh dan peristwa dalam sebuah novel. Tiga hari yang terkayakan. Sudut pandang orang pertama tunggal digunakan Sabda sebagai penutur dalam novel barangkali benar menggambarkan prosa modern novel dalam kerangka kerja naratologi. Sebagaimana pandangan Ian Watt Faruk, 2007185, “aku” yang merupakan kata ganti yang menunjuk diri sebagai individu, merepresentasikan diri manusia dalam keadaan paling konkret, partikular, unik, yang berbeda misalnya dari kami yang merepresentasikan manusia dalam keadaan kolektif, abstrak, dan terbagi. “Aku” dalam novel Sabda menggambarkan laku manusia sehari-hari ordinary man. Bukan manusia yang lebih tinggi dalam gambaran tragedi, bukan pula manusia rendah dalam gambaran komedi. “Aku” adalah manusia biasa, manusia yang bukan apa-apa, tetapi dapat menjadi apa saja, manusia yang belum jadi sekaligus menjadi. Manusia yang terlibat dalam proses, terlibat dalam keadaan dan peristiwa, bukan manusia yang berada di luar proses, manusia yang ada di luar atau dikeluarkan dari peristiwa dan keadaan itu. Dalam posisi keadaan biasa tersebut, tokoh “kamu” oleh Sabda turut diposisikan dalam bagian terpenting daalam novel ini.. Dari tokoh “kamu”-lah semua pengalaman aneh dan konyol yang dialami narator. “Kamu” seakan menjadi pusaran dari rekaan Sabda sehingga tajuk novel tersebut memberi kesempatan bagi tokoh tersebut untuk muncul dan diunggulkan oleh “aku”. Beberapa Peristiwa Aneh Sabda memainkan peristiwa masa lalu tokoh “aku”. Meski cuma tiga hari dinarasikan, tetapi seakan menyayat lapis-lapis terpenting dari kenangan tokoh tersebut. Dimulai dari narasi tokoh “aku” yang bekerja di sebuah perusahaan swasta dan ia hanya mempunyai tujuh jari tangan lima di kanan, dua di kiri hanya telunjuk dan ibu jari. “Aku” yang berusia 27 tahun, baru saja pindah indekos, dan perpindahan tersebut membuatnya mengenang sesuatu mengenai masa lalu dengan cara yang unik “Mengenang sesuatu sepertinya menarik, lagi pula mudah. Ada banyak cerita asik untuk memulai tentanglah kardus berisi barang-barang lawasmu, ambil satu benda yang terletak di lantai, benda apa saja, dan biarkan ia bercerita. Atau begini jilat bersih sendok bekas makan, pandangi agak lama, dan sebuah cerita bisa kembali begitu saja—seperti pria ramah yang mengetuk jendela kamarmu dan berkata, “Ya, ini saatnya membuka jendela” Dari sanalah, “aku” mulai mengenang 10 tahun ke belakang, sewaktu masih kelas III SMA. “Aku” menarasikan hari pertama dalam novel tersebut ketika melalui sambungal telpon ia diajak bolos sekolah oleh “kamu” untuk mencari sendok tukang bakso yang dihilangkannya. Tokoh “aku” pun mendapat telpon kedua dari “perempuan teman sekelas” yang mengajaknya bolos untuk menceritakan keluhan hidupnya. Namun ia mengingat janji dengan “kamu” dan memilih menemani “kamu” mencari sendok. Dari pencarian sendok inilah peristiwa unik dan aneh dimulai. “Kamu” yang kerap berkata salut! dengan berbagai gaya pengucapan di setiap situasi menganggap sendok tukang bakso yang dihilangkannya harus dicari. Dikarenakan tidak dapat diganti dengan sendok lain. Sebab sendok yang dia punya di rumah adalah “sendok untuk mengingat” dan dibuat sepasang Tistan dan Isolde.” Perdebatan pencarian sendok antara “aku” dan “kamu” berakhir ketika “kamu” mengundur waktu pencarian dan mengajak “aku” mengantar tas titipan ayahnya ke rumah Kek Su di Gunung Mas, Bogor. Lima menit terpanjang dalam hidup tokoh “aku” barangkali dirasakannya ketika itu. “Aku” seakan masuk ke dalam dunia mimpi ketika tertidur atau barangkali tidak di atas mobil “kamu”. Dari perihal itulah “aku” mengalami peristiwa aneh, Badai Monyet Parit menyerang kota Bogor, orang-orang panik karena monyet-monyet mengambil telepon seluler, kota lumpuh. “Aku” dan “kamu” mengambil jalan pintas menuju rumah Kek Su. Mereka meyusuri sebuah gorong-gorong di belakang air mancur kota Bogor dan sampai ke “sisi B kota Bogor”. Tempat asing dengan tiga matahari menggantung, ladang bunga, harum, tanah, awan yang bergerak tanpa harus diseret angin. Tempat yang menurut “aku” tidak pernah ada di Bogor. Di tempat itu pula mereka bertemu dengan beberapa orang utan yang salah satunya memakai kaos bertuliskan “Save Human”. Pertemuan dan percakapan dengan orang utan tersebut mengantarkan “aku” dan “kamu ke peristiwa yang lebih aneh lagi ketika sampai di rumah Kek Su. Kek Su yang gemar mengganti sebuah istilah dengan kata yang berima dan hanya mempunyai mata kanan dengan mata kiri rata dengan wajah mempunyai kepiawaian yang absurd. Ia melukis matanya sendiri dan menjadi mata asli. Kek Su menawarkan untuk melukis tiga jari “aku”, tapi ia menolak. Dan menang ternyata peristiwa itu adalah peristiwa paling membingungkan tokoh “aku” Badai Monyet Parit, sisi B kota Bogor, dan kepiawaian Kek Su. Hari ke dua dan ke tiga dinarasikan tokoh “aku” melalui beberapa peristiwa yang juga tergolong aneh dan dibungkus dengan kisah tragik. Misalkan ketika tokoh “aku” diajak oleh “mantan pacar” ke sebuah rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya—konon ia dihamili orang lain. Namun ketika mereka mampir ke sebuah kafe untuk makan, “aku” bertemu dengan seorang tukang sulap yang bisa membaca dirinya dan membaca diri mantan pacarnya. Tukang sulap dengan topi model top-hat yang bisa mengeluarkan kelinci, mengeluarkan selembar kartu namanta tapi beralamatkan rumah “aku”, dan hilang tertarik ke dalam topi sendiri. Resistensi Tokoh Beberapa peristiwa aneh dihadirkan Sabda dari pengalaman “aku”, “kamu”, dan tokoh lain setidaknya menggambarkan resistensi terhadap realitas hidup kekinian. Tokoh “aku” seakan hadir dan lengkap dari pengalaman tokoh lain, ia barulah menjadi “aku” setelah ia bersentuhan dengan pengalaman tokoh lain. Tiga hari aneh tersebut diisi sepenuhnya dengan bolos sekolah. Perdebatan “aku” dan beberapa tokoh lain seakan mengambarkan sebuah kritikan terhadap sekolah sebagai ruang penyeragaman. Kritik tersebut terlihat juga dari kehadiran tokoh bernama “Permen” yang disukai oleh “kamu”, yang konon, memilih home-schooling. Selain itu tokoh “mantan pacar” juga dibenturkan perdebatan tentang anggapan terhadap perempuan hamil di luar nikah, kehendak untuk sekolah, namun norma sosial. Tokoh “Perempuan teman sekelas” hadir dengan dilema. Ternyata belakangan hari ia baru mengetahui bahwa mencintai ayah kandungnya. Ia masih mempertanyakan hasrat yang oleh orang-orang dibahasakan sebagai electra complex tersebut. “Perempuan teman sekelas” menganggap cinta itu pemberian tuhan. Ia merasakan, meragukan, dan mengaminkan cintanya. Bahkan dalam novel dinarasikan peristiwa “perempuan teman sekelas” bertanya pada seorang ustad melalui sambungan telpon di acara reality show sebuah stasiun televisi. Pertanyaan tokoh tersebut menyentak orang-orang. Perasaan dan naluriah dasar manusia dibenturkan dengan norma dan hukum agama. Dama novel tersebut Sabda seakan menggali ceruk terdalam masa lalu tokoh melalui perihal sangat sederhana dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang barangkali dalam realitas dianggap enteng dan tidak penting dipertanyakan. Kegemaran Sabda akan film, video game, dan beragam genre musik juga terlihat dari cara ia menghadirkan peristiwa dan memunculkan suasana. Dari jazz, rock and roll, blues, hingga musik pop lawas Indonesia. Minnie Smith and Her Jazz Hounds, Bob Dylan, The Beatels, Rolling Stones, The Doors, Norah Jones, Nick Drake, Stevie Wonder, hingga Elfa Singer dihadirkan untuk membangun suasana sekaligus dibangun oleh suasana. Wajah sumringah Audrey Hepburn memerankan tokoh Holly Golightly dalam film Breakfast at Tiffany’s atau Jim Carrey dalam film Yes Man! turut dibangun dan terbangun dari sebuah peristiwa. Juga beberapa teori yang mempengaruhi peradaban dunia semisal The Smoky God George Emerson dijadikan pandangan dan landasan tokoh dalam berinteraksi. Sebuah novel hadir dengan peristiwa yang boleh dipercaya atau tidak. Seperti penawaran Sabda dari novelnya pada pembaca cerita-cerita yang tidak perlu dipercaya.*** Versi PDF ULASAN NOVEL SABDA ARMANDIO
Penulis Dekat dan Nyaring 2019, 24 Jam Bersama Gaspar 2017, dan Kamu Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya 2015.Laporkan Pengguna0 Mengikuti 0 Pengikut
sumber membacanya dua hari lalu di hadapan lima pasang mata ikan. Sesekali kami saling tatap dan lima ekor ikan di hadapan saya sepertinya memahami betul situasinya. Setidaknya sampulnya, yang mirip warna surga saya meyakini surganya ikan tidak berwarna hijau, karena hanya kolam lele yang warnanya hijau juga gambar mobil kuning yang mungkin mereka pahami sebagai salah satu bungkus pelet kesukaan kenapa judulnya Kamu Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya. Tapi itu tidak terlalu penting. Sebab ikan pun tidak akan percaya. Novel ini hanya boleh dipercaya jika anda percaya Tuhan itu novel ini mungkin mengingatkan kita pada Dilan, lebih tepatnya Iqbal Ramadan yang polos dan sepertinya belum pernah nonton bokep. Di sini untuk pertama kalinya tokoh aku, yang kegemarannya membaca, membolos sekolah. Bersama dengan kamu, selama tiga hari beruntun membolos, banyak kisah yang barangkali diingat tokoh saya bilang Dilan? Saya tidak juga tahu kecuali latarnya yang memang relatif sama. Anak SMA, bengal dan tidak tinggal di daerah Miangas. Kebetulan juga tokoh aku suka makan mie, sebagaimana Iqbal Ramadan yang sesekali muncul di sela acara sinetron azab ini adalah novel pertama Sabda Armandio, yang kubaca setelah novel keduanya. Barangkali selalu menarik untuk memerhatikan bagaimana Dio memainkan karakter dalam setiap novelnya. Dari gaspar kemudian Kamu, ia jadikan tokoh tersebut orang yang tidak menonjol dalam bidangnya tapi terkesan cerdas. Apatis, bengal dan hampir tidak bermoral tapi memiliki superioritas dalam setiap komunitas yang menghadirkan tokoh-tokoh ini pun memuat banyak kritik. Salah satunya, ketika tokoh aku bersama dengan kamu memasuki sebuah sumur. Dalam dunia yang aneh mereka bertemu dengan seekor orang utan yang mengenakan kaos bertuliskan save human. Dalam satu kejadian, si orang utan suka memakan uang. Alasannya sederhana karena ia sering mendengar manusia yang merusak hutan agar mendapat uang dan tidak kelaparan. Adapun tentang sistem pendidikan, digambarkan ketika adegan kematian seorang bocah yang bunuh diri karena mendekati UN. Juga dengan banyaknya fenomena tentang orang-orang yang merasa tahu tentang segalanya, yang kemudian ditampilkan dalam dialog antara teman tokoh aku yang sedang menelepon seorang pembicara di Murakami pernah berkata bahwa menulis fiksi itu seperti memainkan apa yang ada dalam mimpi/khayalan kita. Di sini Dio menggunakan fragmen tokoh aku yang suka melamun. Dalam melamun atau katakan setiap khayalan/mimpi kita bisa menceritakan ulang apa pun, termasuk dengan hal-hal yang sejatinya di luar nalar. Seperti ketika seseorang bunuh diri karena Ujian Nasional, tentang seseorang yang jatuh cinta dengan ayahnya, juga tentang ribuan monyet yang mengamuk di novel ini, Kamu bilang Aku jadi pengarang, sebab kesimpulanku sejauh ini, menulis adalah satu-satunya cara untuk bisa memetakan perasaan dan pikiranku. Dan sepertinya mengarang adalah cara meludahi seseorang dengan hanya itu kutipan yang menarik. Pun bahwa banyak kutipan lain yang menarik, rasanya itu hanya menunjukkan kecerdikan Dio. Ia mampu mengemas argumen juga narasi besar tokoh-tokoh dunia menjadi sesuatu yang lebih mudah dicerna, ketimbang onde-onde umum novel ini menceritakan tentang tokoh aku yang memiliki jemari tujuh yang suka melamun dan sebatang kara sejak kedua orang tuanya terpanggang di dalam rumah. Ia mengenang kejadian sepuluh tahun lalu. Ia yang membolos selama tiga hari berturut-turut dan apa yang ini satu ikan menatapku dengan mulut yang menganga. Ia tampak mengiba sebelum akhirnya kutaruh dalam cobek dengan bumbu bawang.
kamu cerita yang tidak perlu dipercaya